Gestur Menunduk Porter Dan Pegawai Pt Kai Dianggap Perbudakan, Ah Berlebihan!

By | August 8, 2019

Gestur menunduk yang dilakukan oleh porter dan pegawai PT KAI menjadi pemandangan yang gres diterapkan semenjak masa angkutan Idulfitri 2018. Setiap kali kereta berangkat dari stasiun, sejumlah porter dan pegawai KAI yang bertugas diharuskan bangun menghadap gerbong kereta yang bakal berangkat. Tangan diletakkan di dada sesudah itu kereta pun mulai beranjak, mereka akan terus menunduk hingga kereta benar-benar meninggalkan stasiun.

Meski sudah usang diberlakukan, ternyata masih menyisakan pro dan kontra bagi masyarakat Indonesia. Di media umum ibarat Twitter, hal ini ramai diperbincangkan dengan bermacam-macam balasan soal gestur tersebut. Meskipun ada yang mengkritik hingga mengusulkan biar mengganti gestur, namun ada juga yang mengapreasiasi.  Terkait soal tersebut Senior Manager Humas KAI DAOP 1 Jakarta, Edy Kuswoyo menyampaikan jikalau hal itu dilakukan lebih kepada bentuk rasa penghormatan.

“Itu sebuah bentuk penghormatan dan terima kasih dari PT KAI kepada pengguna jasa kereta api. Kalau dianggap perbudakan, nggak setara, nggak benar ibarat itu,” ungkapnya dilansir Detik.

Edy menegaskan jikalau kebiasaan itu juga dilakukan Direksi, Komisaris hingga dirinya sendiri. Terkait usula untuk mengganti gesutr menjadi melambaikan tangan dan tersenyum. Ia menegaskan jikalau gestur tersebut masih bakal tetap dilakukan sebagai bentuk penghormatan.

“SK-nya kan sudah ada. Nggak (evaluasi),” ujarnya.